Nankilyas\’s Weblog

Experimen, belajar, dan latihan itulah gambaran blog ini. Keinginan eksplorasi ponsel yang mengantarkan saya sampai kesini. Keterbatasan pengetahuan dan fasilitas terbatas(ponsel) menjadi hambatan kelayakan blog ini, tapi minim bukan berarti tidak tertutup tampil maksi, saya tak yakin itu. Oh ya nama saya Nank Ilyas orang Tasikmalaya tulen. Trim’s!

Teguh dalam beragama

Ali-`Imraan:101

وَكَيْفَ
تَكْفُرُونَ
وَأَنتُمْ
تُتْلَى
عَلَيْكُمْ
آيَاتُ اللّهِ
وَفِيكُمْ
رَسُولُهُ وَمَن
يَعْتَصِم
بِاللّهِ فَقَدْ
هُدِيَ إِلَى
صِرَاطٍ
مُّسْتَقِيمٍ

Bagaimanakah
kamu (sampai)
menjadi kafir,
padahal ayat-ayat
Allah dibacakan
kepada kamu, dan
Rasul-Nya pun
berada di tengah-
tengah kamu?
Barangsiapa yang
berpegang teguh
kepada (agama)
Allah, maka
sesungguhnya ia
telah diberi
petunjuk kepada
jalan yang lurus .

September 7, 2007 Posted by | Pangaosan | Tinggalkan sebuah Komentar

KH. Endang Ilyas Bulan Sya’ban saat kita menbersihkan hati.

Bulan Rajab baru saja berlalu, datang bulan Sya’ban saat ini dan selanjutnya kita nanti akan memgsuki bulan Ramadhan.
Menurut para alimil- ulama bulan Rajab saatnya kita berpayah-payah untuk membesihkan segi dhohiriah kita, bulan Sya’ban adalah saat kita berupaya mencapai kesucian hati, dan bulan Ramadhan adalah saatnya untuk mencapai kesucian ruh. Tiga bulan untuk menggapai kesucian paripurna yakni jasad, hati dan ruh.
Salah satu upaya untuk memperoleh kebersihat hati adalah untuk mengalihkan setiap aktifitas baik ibadah makhzdoh maupun aktifitas sosial (goiru makhzdoh) seluruhnya dijadikan sebagai amalan Ibadah bukan sebaliknya. Contohnya adalah pengajian ini harus dìpandang sebagai pemenuhan perintah Alloh Swt, bukan karena kita suka pengajian ini. Mencari nafkah, makan bahkan tidur pun dapat dijadikan ibadah kalau diniatkan untuk ibadah dan sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah.
Kenikmatan dan terpenuhinya keinginan jangan sampai melarutkan kita pada kepuasan dan kesenangan yang berlebihan. Dibalik kenikmatan itu ada tuntutan untuk mensyukuri nikmat tersebut. Jangan-jangan kita tidak kuasa atau bahkan tidak sempat mensyukurinya. Kondisi seperti itu justru akan menjerumuskan kita pada kesengsaraan siksa Alloh Swt nantiya.
“Andaikan kalian bersyukur niscaya Aku sungguh akan tambahkan kepada kalian, tapi jika kalian ingkari maka sesungguhnya siksaKu sangatlah dahsyat.
Nabi Khaidir dan Nabi Ilyas as. tidak pernah berpisah sebelum keduanya mengucapkan empat kalihmah toyyibah berikut ini;
Bismillahi Maasyaa-Alloh la yasyuukul khoiro illAlloh
La yasrifus-suua illal-lloh
Wamaa bikuw min-ni’matin faminal-lloh
Walaa walaa haula walaa kuwwata illaa bi-llah
Selain berdzikir dengan mengucapkan kalimah toyyibah juga dengan sepenuh hati ta’at atas semua perintahNya dan berani untuk menjauhi apapun yang dilarangNya.
‘Uzdkuruunii bith-thooah’
‘Uzdkuruunii bialsinatikum bilhamdi wattasbiihi wattakbiiri wagoirihi wabiqirooatil-quraani wabi-qulubikum.
Kitapun mesti ingat apapun bentuknya yang terasa menyenangkan, menyadari dan menanamkan dalam hati semua itu dari Alloh Swt.
Wama min hasanatin faminalloh wama min suuin famin-nafsik.

Agustus 23, 2007 Posted by | Pangaosan | 3 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.